
Binar-binar hujan itu masih
ada,
agaknya ia masih ingin berderai meninggalkan hawa dingin dari yang
sedang hingga menusuk tulang, meninggalkan sepi dan perlahan
meninggalkan keheningan malam. Malam ini agaknya berbeda bagi Rara, ada
kesedihan terselip di bagian hatinya. Gadis dengan rambut diikat kuda
itu masih tetap setia duduk di samping ranjang rumah sakit, menemani
sang Ayah yang kini tergolek lemah seakan kehabisan tenaga. Bau khas
rumah sakit merebak hingga menusuk indra penciuman Rara, dilihatnya
tangan kekar itu dilengkapi selang infuse dan terdapat satu tabung
oksigen di sisinya.
Dua hari lalu, Renaldi —ayah
Rara harus dilarikan ke Rumah Sakit akibat penyakit
Diabetes yang diderita beliau. Penyakit yang semakin
lama
semakin menjadi. Kurang lebih tiga tahun lamanya tubuh Renaldi harus
bersahabat dengan penyakit bodoh itu. Perbedaan yang mencolok terlihat
dari tubuh Renaldi yang dulu berisi kini seperti tinggal tulang saja,
sangat kurus. Rara tak tega melihat kenyataan yang harus dijalani sang
Ayah, jika ia ingat perjuangan sang Ayah yang harus tertatih hingga
menemukan kata sembuh. Seperti luka lama yang kembali terkuak. Bagi Rara
cerita itu akan selalu membekas di hatinya. Yang tak pernah Rara lupa
Ayahnya selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Di balik senyum simpul
yang sebenarnya menyimpan kata lelah, lelah lahir dan lelah bathin.
Di ruangan yang tak terlalu besar itu hanya ada mereka, ditambah
kesunyian yang disuguhkan sang hujan, namun Rara selalu merasakan
ketenangan saat hujan menyapanya. Rara beranjak dari duduknya, dan
menoleh sebentar ke arah Renaldi, wajah menenangkan itu telah terlelap.
Di mana ketentraman itu ada di alam mimpinya. Rara menghampiri jendela
kamar rawat Ayahnya, dibukanya sedikit gorden hijau yang menutupi
jendela itu. Rara menengadah sebentar, hujan, kau masih setia.
Mungkinkah alam juga ikut berempati melihat keadaan Ayah? Pikir Rara.
Senyuman itu akhirnya terukir walau hanya di sudut bibir merah Rara.
“Aku harap hari esok akan lebih baik.”
—
“Ra, bangun. Kakak bawakan sarapan untukmu dan Ayah.” Suara khas
perempuan menyelusup masuk ke telinga Rara, membuatnya sedikit
bergeming. Ia menegakkan badannya, mengucek kedua matanya lalu
mengerjap-ngerjapkannya. Di hadapannya telah berdiri perempuan yang ia
sebut Kakak. Agaknya nyawa-nyawa Rara masih berkeliaran dan menunggu
untuk kembali. Resa —kakak Rara, menyodorkan 1 mangkuk bubur ayam yang
langsung membuat perut Rara bersorak.
“Terima kasih, Kak untuk buburnya,” Rara tersenyum “Kakak kapan
pulang?” Rara membenarkan posisi duduknya, dan mulai menyantap sarapan
paginya.
“Satu jam yang lalu. Ayah kelihatan nyenyak sekali.” Resa mengalihkan
pandangannya ke arah Renaldi. Tak ada firasat apapun. Sebenarnya tak
tega membangunkan Ayah, namun apa boleh buat, Ayah harus sarapan dulu.
Waktu pagi yang bagus untuk mengisi tenaga. Pikir Resa.
“Ayah…” panggil Resa lembut, tangannya sedikit mengguncang-guncangkan tubuh Renaldi.
“Ayah…” panggilnya lagi, hingga beberapa kali. Namun, apa? Renaldi diam,
tak ada respon, gerakan kecil atau yang lainnya. Resa gemetar,
begitupun Rara yang antusias di samping kakaknya itu sehingga
mengacuhkan bubur ayam yang baru dilahapnya beberapa suap.
“Kak, ayah kenapa?” Tanya Rara
polos.
Resa menggeleng lemas. Ia mendekat dan mencoba merasakan detak jantung
dan helaan napas Renaldi. Nyatanya sudah tak ada lagi tanda-tanda beliau
masih hidup. Jantung Resa kini saling berpacu, berdebar layaknya
tabuhan drum, mata bulat itu berkaca-kaca. Ia menatap Rara sesaat, dia
mengerti. Tapi, apakah Rara akan mengerti juga? Resa tak tahu bagaimana
harus menjelaskannya kepada adik sematawayangnya itu.
“Kak, kenapa? Ayah baik-baik saja kan? Ia hanya terlalu lelah dan
akhirnya terlalu lelap tertidur? Begitu bukan? Ya sudah, biarkan saja.
Aku tak tega jika harus membangunkan Ayah.” Resa tertunduk,
“Kita panggil saja dokter,” balas Resa dengan nada suara lemah.
Ia berlalu untuk memanggil dokter. Tak lama, ia kembali bersama pria
dengan jas putihnya itu. Dokter terlihat mengecek kondisi Renaldi yang
memang sudah ‘tak ada’.
Rara tertegun, matanya terbelalak, begitu saja ia menepis tangan
Dokter yang hendak menutup seluruh tubuh Renaldi dengan kain putih. “Apa
yang dokter lakukan? Dokter sudah gila! Ayah hanya sedang tidur. Apa
dokter mau membunuh ayahku?” bentak Rara yang ikut membuat Resa
terkejut.
“Sabar, ya, Nak. Ayahmu sudah meninggal dunia.”
“Dokter mengada-ngada. Mana mungkin! Kak, bohong kan yang dibicarakan
Dokter itu? Bohong kan?” Rara tersenyum sinis sambil menatap tajam mata
kakaknya. Resa memegang tegar pundak adiknya.
“Benar apa yang dikatakan Dokter. Ayah sudah meninggal, Ra.” Rara
menatap kosong ke depan, rahangnya terasa mengeras, bibirnya bergetar,
matanya memanas. Ia TAK PERCAYA!
“Tidak mungkin kak. Ini bohonggg…” Teriak Rara histeris. Rara
berjalan lunglai menghampiri Ayahnya, ia mengguncang-guncangkan tubuh
tak bernyawa itu.
“Ayah bangun, Yah. Ayah tak mungkin pergi. Iya, kan? Ayah sudah janji
bukan akan mengajakku jalan-jalan? Dan mana janji Ayah sekarang? Ayo,
Ayah… banguuunnn. Kumohon! Buktikan ucapan mereka salah Ayah…” ucap Rara
terisak. Ia yakin ini hanya kesalahan. Resa memegang pundak Rara, air
matanya berderai.
“Ikhlaskan Ayah Ra. Sabarkan hatimu.”
“Kakak itu salah! Aku tak percaya.!” Tubuh Rara terasa semakin
melemas, hingga kakinya tak dapat menopang berat tubuhnya. Apapun yang
ia lihat tiba-tiba menggelap dan hitam pekat.
“Rara…”
…
Hingga jasad Renaldi akan dikuburkan, Rara tak kunjung sadarkan diri.
Resa menatap iba wajah adiknya itu, ia mengerti Rara begitu shock
hingga ia tak mau percaya pada takdir yang telah terjadi. Resa
membiarkan adiknya itu benar-benar tenang di alam bawah sadarnya.
Jenazah segera diantarkan ke tempat pemakamam. Matahari siang menyambut
rombongan yang ikut mengantarkan Renaldi ke tempat peristirahatan
terakhir, tempat semua yang bernyawa akan mati. Agaknya cuaca pun
mendukung. Resa berdiri berdekatan dengan liang lahat Ayahnya,
menyaksikan proses demi proses penguburan pria yang akan selalu
dikenangnya, hingga akhirnya tanah merah itu menimbun jasad kaku
Renaldi. Bait-bait doa Resa lafadzkan, butiran hujan itu kembali
menumpuk di sudut matanya hingga akhirnya ia tumpahkan. Bunga segar nan
wangi ia taburkan. Rasanya kakinya berat untuk meninggalkan. Resa
tersenyum mencoba ikhlas. “Ayah, semoga engkau bahagia di sana. Ya
Allah, ampunkanlah dosa-dosa Ayah, terimalah ia di sisiMu,” lirih Resa
dalam doa yang akan selalu ia untaikan di setiap sholatnya.
Satu minggu berlalu…
Rara berubah, ia menjadi pribadi yang pendiam dan banyak melamun.
Terkadang menjadi sosok yang mudah marah dan tersinggung. Nilai-nilainya
di sekolah pun menurun. Rara mencoba mendengar apa yang dikatakan
kenyataan, tapi entah… hati dan logikanya menolak. Rara masih menganggap
Ayahnya masih hidup. Masih bersamanya, seperti dulu. Resa sudah
berusaha bicara, menyadarkan Rara, berharap Rara segera tersadar bahwa
keyakinannya adalah salah. Mungkin memang hal yang sulit bagi Rara
menerima kenyataan yang tergores jelas. Rara memang sangat dekat dengan
sang Ayah, ia tak bisa jauh dari Ayahnya. Resa dan Rara sudah ditinggal
sang Ibu setelah Ibunya melahirkan Rara. Ia begitu manja jika di dekat
Ayahnya, sikapnya jadi kekanak-kanakan. Dan Rara sangat sangat
menyayangi Ayahnya. Renaldi selalu memaklumi sifat anak keduanya itu.
Ayah terhebat di mata Rara. Dan satu ketakutan, Rara lebih takut
kehilangan Ayahnya dibanding bumi runtuh sekalipun.
“Ra, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Ikhlaskan, Ra.
Ikhlaskan! Kamu tidak kasihan kepada Ayah, Ayah pasti akan sangat sedih.
Kepergiaannya akan terasa berat. Ayah bukan milik kita seutuhnya. Ada
yang lebih berhak dari kita.”
“Kak, kakak itu bicara apa? Ayah masih ada. Dia masih hidup!. Ayah
hanya pergi untuk sementara. Dan akan segera kembali. Aku yakin itu!”
balas Rara sambil berlalu ke dalam kamarnya. Resa hanya mampu menghela
napas berat.
Di sekolah…
Andine menghampiri Rara yang sedang asyik membaca komik kesukaannya. Ia
lantas duduk di bangku kosong di samping Rara. Bangku yang memang tempat
duduknya.
“Ra, nilai-nilai kamu kok pada turun? Kenapa?” Andine mengawali pembicaraan.
“Hmm, aku terlalu capek, Dine,” jawab Rara sekenanya tanpa beralih dari komiknya.
“Hmm.. oh iya, aku turut berduka cita ya atas meninggalnya Ayahmu.
Yang sabar, ya, Ra. Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan. Semua
pasti ada hikmahnya dan memang inilah yang terbaik.” Mendengar omongan
Andine, Rara langsung mengalihkan pandangannya kepada gadis berkacamata
itu, pandangan tak suka.
“Kamu ngomong apa, sih, Dine? Kamu mendoakan Ayahku mati, begitu?
Kenapa semua orang bicara seperti itu. Ayahku masih hidup!. Apa semua
orang membenci Ayah, hingga semua orang berbicara hal yang sama?.” Rara
beranjak dari duduknya. Andine menatap Rara aneh diikuti lipatan halus
di keningnya.
“Lho, kok kamu malah marah, Ra? Aku hanya…”
“Ah… sudah. Semua orang memang jahat!”
Rara menagis ‘lagi’ di taman belakang sekolahnya, tempat yang Rara
anggap pas untuk menyendiri. Mengapa semua orang berkata jika Ayahnya
telah tiada? “Tidak!” Rara menggeleng. “Ayah masih hidup!” bathinnya.
Mereka hanya iri melihat Rara mempunyai Ayah sehebat Renaldi. “Aku
merindukan Ayah. Ayah cepatlah kembali. Buktikan pada mereka, Ayah masih
hidup. Cepat kembali Ayah..”
—
Rara duduk di depan teras rumahnya dengan memajukan sedikit bibirnya
ditemani Resa yang sedang asyik dengan kegiatan barunya, yaitu merajut
sebuah taplak meja. Keahlian merajut yang ia dapat dari sahabat karibnya
itu.
“Kak, kenapa semua orang termasuk teman-temanku di sekolah bilang jika
Ayah sudah meninggal? Kenapa mereka jahat berkata seperti itu?” Rara
mengulang pertanyaan yang masih mengganjal di otaknya. Resa mengalihkan
pandangannya, rasanya hatinya pilu mendengar apa yang baru saja adiknya
ucapkan. Rara belum sadar, dan akhirnya Resa memilih diam.
“Kak, kapan Ayah akan pulang? Aku sudah sangat merindukan Ayah?”
Tanya Rara dengan wajah mendung. Resa kembali terdiam. “Ya Tuhan..”
bisiknya.
“Ayah takkan pernah pulang sampai kapanpun, biarkan Ayah pergi dengan
tenang, Ra. Kasihan Ayah,” Resa merasa sudah putus asa memberi
pengertian kepada Rara.
“Kakak memang sama dengan mereka. Aku tak mengerti. Sungguh!”
“Kamu harus belajar untuk mengerti, Ra. Dunia ini bukan milikmu,
termasuk Ayah. Coba mengerti!” Resa berlalu dengan air mata yang
tiba-tiba saja turun lagi.
—
Rara terbangun dari tidurnya, merasakan sesuatu telah mengusik
lelapnya. Rara meyipitkan matanya melihat sekelabat cahaya putih
menerobos jendela kamarnya. Rara sedikit takut, tapi ia penasaran dengan
apa yang terjadi di luar sana. Kedua kakinya melangkah menghampiri
jendela kamarnya. Dan… sreekkk… Rara terjerembab ke sesuatu tempat,
tempat asing di dalam penglihatannya, tempat sunyi seperti hanya ada
dirinya di sini. Namun, Rara tak dapat berbohong. Ia takjub dan jatuh
cinta dengan tempat berupa taman yang indahnya Subhanallah, tempat yang
Rara yakin takkan ia temukan di bumi. Tunggu… di bumi? Lalu ini di mana?
Rara berdiri dan berjalan perlahan menyelusuri tempat aneh itu.
Telinganya samar-samar mendengar seseorang sedang terisak. Ia
berjalan lagi dan lagi hingga seseorang itu di depan matanya. Mata yang
seketika berbinar layaknya kerlap-kerlip bintang.
“Ayah…” lirih Rara sumringah. Pria yang benar-benar adalah Ayahnya.
Ayah yang dirindukan Rara. Rara mendekat, ia ingin memeluk sang Ayah,
namun seperti ada yang berbisik. “Jangan dulu.” Rara menuruti itu.
Ayahnya menoleh, menatap mata anaknya. Mata berbinar itu seakan meredup
melihat orang yang teramat Rara sayang menangis di hadapannya.
“Ayah, mengapa Ayah menangis?”
“Ayah menangis karenamu, Nak.”
Rara tersentak. “Apa salahku Ayah? Maafkan aku telah membuatmu menangis.”
“Rara sayang pada Ayah?” Tanya Renaldi.
“Ya, aku sangat menyayangi Ayah.”
“Jika Ya. Ikhlaskan kepergian ayah, Sayang. Ayah harus pergi karena Ayah telah di panggil Tuhan. Rara mengerti?” Rara tertuduk.
“Jadi apa yang dikatakan mereka benar?”
“Ya, Sayang. Melihatmu tak bisa merelakan Ayah membuat langkah Ayah
untuk pergi terasa berat. Jika memang Rara sayang Ayah relakan Ayah
untuk pergi. Tuhan begitu menyayangi Ayah begitupun Rara. Ayah memang
tak bisa menjaga Rara seperti dulu, tapi ada Allah yang selalu menjaga
Rara dan Kak Resa. Ayah memang takkan bisa Rara sentuh dan Rara lihat.
Tapi, Ayah akan selalu bersama Rara. Karena Ayah akan selalu tinggal di
hati Rara. Doa yang akan selalu menghubungkan kita. Ibu, Ayah, Rara dan
Kak Resa.” Butiran-butiran bening itu meluncur mulus melewati lekukan
pipi Rara. Rara merasa salah. Renaldi mengusap air mata itu dengan
tangan kekarnya, begitupun Rara yang mengusap sisa-sisa hujan yang
mengering di pipi Ayahnya itu.
Kini selengkung pelangi anggun dan cantik menghiasi bibir keduanya.
“Boleh aku memeluk erat Ayah untuk terakhir kalinya?” pinta Rara. Renaldi mengangguk.
—
Kelopak mata Rara terbuka, ia menggerakannya ke kiri dan ke kanan.
Bibirnya yang lama tak tersenyum telah kembali. “Ayah.. maafkan aku,”
lirih Rara. Ia kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu menuju meja
makan, Resa sedang menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua. Resa
menyadari kehadiran Rara di belakangnya.
“Ayah, Kak…” omongan Rara menggantung. Resa menatap Rara dengan menebak-nebak. Apa yang akan dikatakan Rara kali ini?
“Ada apa dengan Ayah?”
“Aku tahu selama ini aku terlalu salah, ayah sedih karena melihatku
seperti saat itu. Aku sudah ikhlas merelakan Ayah pergi. Aku tahu Ayah
bahagia di sana,” jelas Rara dengan mata yang berkaca-kaca. Resa tak
percaya dengan apa yang diucapkan adikya itu. Alhamdulillah.
“Syukurlah, terima kasih Ya Allah,” syukur Resa. Kakak beradik itu
saling berpelukan. “Ayah pasti tersenyum di sana. Aku menyayangi Ayah, selamanya,” bathin Rara.
Ayah, kau memang pahlawan pertama yang dikenal anak-anakmu. Bagiku
kau adalah sosok lelaki terbaik, terhebat, dan sempurna. Semua memang
terasa sangat berbeda, aku tak dapat lagi melihatmu, menyentuhmu, atau
memelukmu. Tapi, satu hal yang akan tetap sama kau selalu tinggal di
hatiku. Ayah, kau kisah terindah yang diberikan Tuhan untukku.
THE END
Cerpen Karangan: Siska Nurtika Aryani